Tahun depan PT Vale Bangun Smelter di Luwu Timur, Morowali dan Kolaka

POTOKLIK.ID – PT Vale Indonesia Tbk salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia akan membangun tiga smelter tahun depan di Luwu Timur, Morowali dan Kolaka.

Hal itu diungkapkan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernandus Irmanto, yang dikutip potoklik.id lewat Kontan.co.id, Sabtu 6 Desember 2025.

Ia mengaku proyek pembangunan infrastruktur penunjang untuk Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Lalu yang kedua, pemurnian nikel Bahodopi di Morowali. Proyek ini PT Vale akan bekerjasama dengan GEM Co., Ltd perusahaan manufaktur bahan baterai asal China.

Proyek yang ketiga pemurnian nikel Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Pembangunan smelter ini PT Vale bekerjasama dengan Zhejiang Huayou Cobalt.

“Yang satu adalah di Pomalaa, kemudian yang kedua di Bahodopi, yang ketiga juga di Sorowako. Tiga proyek ini mempunyai nilai strategis dari berbagai sisi ya,” bebernya.

Ketiga smelter yang akan dibangun sudah menggunakan berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) atau teknologi Pelindihan Asam Tekanan Tinggi dengan total investasi mencapai US$ 9 miliar atau setara dengan Rp 138,3 triliun (kurs Rp 15.730).

“Dan kemudian diharapkan bahwa produk-produk dari pabrik HPAL yang kami bangun tersebut kemudian bisa diserap market dan menjadi material untuk baterai listrik,” tambah pria yang akrab disapa Anto tersebut.

Meski begitu, Anto mengakui adanya keadaan oversupply nikel tahun ini, sehingga Vale akan lebih dulu melakukan beberapa kajian untuk mengurangi risiko dari pengembangan.

“Maka PT Vale juga harus melakukan beberapa kajian untuk mengurangi risiko dari pengembangan. Jadi kita harus memahami market dengan baik. Kemudian berusaha menggunakan pengetahuan kami atas market itu untuk men-drive aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan,” jelasnya.

Adapun, Anto menyebut perseroan telah memulai penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa pada kuartal ketiga 2025.

“Dan hasilnya sudah kami nikmati bahwa di revenue stream, additional revenue stream PT Vale di tahun 2025 ini akan ada selain nikel matte dari Sorowako, ada juga penjualan ore dari Bahodopi dan juga dari Pomalaa. Jadi ini menjadi upside yang menurut saya luar biasa,” ungkap dia.

Adapun, setelah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 disahkan dan disepakati, dari Pomalaa Vale juga akan melakukan penambangan dan penjualan ore.

“Ini sambil menunggu pabrik-pabrik HPAL yang memang sedang dibangun ini selesai. Jadi di Pomalaa, Bahodopi itu kan kita menambang saprolit dan juga limonit,” kata dia.

“Limonit-nya nanti akan kami supply ke pabrik HPAL yang kami bangun bersama partner. Sementara saprolit-nya itu akan dijual ke pasar ya. Jadi itu menjadi additional revenue stream buat perusahaan,” tambahnya.

Anto pun menargetkan ketiga smelter ini dapat selesai pada kuartal ketiga tahun depan, secara bertahap.

“Mudah-mudahan, katakanlah, misalkan yang dari Pomalaa HPAL itu bisa kami selesaikan di kuartal 3 tahun 2026. Kemudian Bahodopi menyusul, kemudian yang paling akhir nanti adalah HPAL dari Sorowako,” tutupnya.***

Komentar