LUWU TIMUR, POTOKLIK.ID – Perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk yang memiliki kode saham INCO mencatat kinerja operasional dan keuangan yang tetap solid sepanjang tahun 2025, meskipun pasar nikel global menghadapi tekanan harga.
Sepanjang 2025, produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 metrik ton, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 71.311 ton.
Kenaikan ini menunjukkan ketahanan operasional perusahaan dalam menjaga stabilitas produksi di tengah dinamika industri nikel dunia.
Selain itu, pengiriman nikel matte juga meningkat secara moderat menjadi 73.093 ton, dibandingkan 72.625 ton pada 2024.
Pendapatan Hampir Tembus US$1 Miliar
Secara finansial, PT Vale mencatat pendapatan sebesar US$990,2 juta pada 2025, naik sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$950,4 juta.
Sementara itu:
EBITDA: US$228,2 juta
EBITDA 2024: US$225,9 juta
Adapun laba bersih perusahaan melonjak signifikan menjadi US$76,1 juta, meningkat 32 persen dari US$57,8 juta pada 2024.
Produksi Kuartal IV Turun karena Perawatan Furnace
Pada triwulan IV 2025, produksi nikel matte tercatat 17.052 ton, turun sekitar 12 persen dibandingkan triwulan III yang mencapai 19.391 ton.
Penurunan ini dipicu oleh dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 pada November 2025 yang ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Perusahaan menyatakan langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk menjaga keandalan operasi dan kapasitas produksi jangka panjang.
Vale Mulai Ekspansi Penjualan Bijih Nikel
Tahun 2025 juga menjadi tonggak penting bagi ekspansi portofolio bisnis perusahaan.
PT Vale mulai mencatat pendapatan baru dari penjualan bijih nikel saprolit, terutama dari: Blok Bahodopi dan Blok Pomalaa.
Total penjualan bijih saprolit mencapai 2,31 juta wet metric ton (WMT) sepanjang tahun.
Sebagian besar berasal dari Bahodopi, sementara kegiatan di Pomalaa masih terbatas pada bulk sampling test dengan target produksi penuh pada 2026.
Efisiensi Biaya di Tengah Tekanan Harga Nikel
Meskipun harga nikel global menurun, perusahaan mampu menjaga efisiensi operasional.
Harga realisasi rata-rata nikel matte pada 2025 tercatat: US$12.157 per ton
Turun sekitar 7 persen dibandingkan 2024.
Namun biaya kas penjualan berhasil ditekan menjadi: US$9.339 per ton
Lebih rendah dari US$9.374 per ton pada 2024
Angka tersebut menjadi biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir.
Belanja Modal Naik Tajam
Untuk mendukung ekspansi dan pengembangan proyek, PT Vale meningkatkan belanja modal secara signifikan.
Belanja modal 2025: US$485,9 juta
Belanja modal 2024: US$332,1 juta
Kenaikan: sekitar 46 persen
Sementara posisi kas dan setara kas per 31 Desember 2025 tercatat US$376,3 juta, yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan tetap kuat.
Prospek 2026: Fokus Hilirisasi Nikel
Memasuki 2026, perusahaan memperkuat fokus pada pengembangan proyek tambang dan hilirisasi nikel, khususnya di Pomalaa.
Progres proyek:
Tambang Pomalaa: 60 persen pembangunan
Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa: 50 persen konstruksi
Proyek HPAL ini ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan III 2026.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi PT Vale dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Selain itu, perusahaan terus menekankan praktik pertambangan berkelanjutan melalui audit independen Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) serta peningkatan kinerja ESG.***







Komentar