LUWU TIMUR, POTOKLIK.ID – Di sebuah ruang kelas yang sederhana, suara ketukan papan ketik terdengar pelan namun ritmis. Bagi sebagian orang, bunyi itu mungkin biasa saja. Namun bagi anak-anak di ruangan itu, setiap ketukan adalah nada kecil yang menulis masa depan mereka.
Monitor komputer yang menyala menampilkan tulisan sederhana: “APBD 2017.” Di balik angka-angka yang biasanya terasa kaku dalam laporan pemerintahan, ada harapan yang diam-diam sedang tumbuh.
Di ruangan itulah, Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam hadir. Bukan dengan jarak formal seorang pejabat tinggi yang dibatasi protokol, melainkan dengan langkah pelan seperti seorang ayah yang datang melihat anak-anaknya belajar.
Ia berhenti di samping seorang siswa yang tengah fokus menatap layar komputer. Lalu, perlahan tangannya mendarat lembut di atas kepala anak itu.
Sentuhan sederhana, tapi penuh makna.
Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kata-kata besar tentang pembangunan atau visi besar daerah. Namun dari gestur itu, seolah ada pesan yang mengalir pelan:
“Belajarlah yang tekun, Nak. Dunia ini luas, dan masa depanmu jauh lebih besar dari ruang kelas ini.”
Sang siswa tersenyum lebar. Senyum yang bukan sekadar rasa senang karena didatangi seorang bupati, tetapi senyum seorang anak yang merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak sendirian mengejar mimpinya.
Di balik layar komputer yang sederhana itu, kita melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar program anggaran. APBD bukan hanya angka, tetapi jalan yang membuka kesempatan. Ia menjelma menjadi komputer yang bisa disentuh, ilmu yang bisa dipelajari, dan mimpi yang mulai terasa mungkin.
Tatapan Irwan Bachri Syam kepada anak-anak itu terlihat tulus. Tidak ada jarak antara pemimpin dan generasi yang ia pimpin menuju masa depan.
Barangkali di situlah makna kepemimpinan yang sesungguhnya.
Bukan tentang seberapa tinggi kursi kekuasaan, tetapi tentang seberapa rendah seseorang bersedia membungkuk untuk menyentuh hati rakyatnya.
Sentuhan tangan itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi anak yang merasakannya, itu bisa menjadi restu yang diingat seumur hidup.
Restu untuk terus belajar.
Semangat untuk terus bermimpi.
Dan janji yang tak diucapkan bahwa di tanah Luwu Timur, tak ada anak yang harus berjuang sendirian meraih masa depannya.
Di ruang kelas sederhana itu, ketukan papan ketik masih terus terdengar.
Pelan, tetapi pasti.
Seperti harapan yang sedang ditulis satu huruf demi satu huruf.
(Oleh: Alpian Alwi)







Komentar